Istidraj sangat jelas dalam perkara ini kerana perbuatan maksiat pangkalnya adalah kehancuran dan penderitaan. Namun ketika maksiat terus dilakukan sedangkan kehidupan di dunianya semakin sukses dan sejahtera maka hal tersebut adalah kemurahan hati yang Allah berikan dalam bentuk istidraj.


Istidraj


Pengertian istidraj?

Apa itu istidraj? Ia adalah pemberian nikmat Allah kepada manusia yang mana pemberian itu tidak diredhaiNya .


Rasullulah SAW bersabda :


” Apabila kamu melihat bahawa Allah Taala memberikan nikmat kepada hambanya yang selalu membuat maksiat (durhaka), ketahuilah bahawa orang itu telah di Istidraj kan oleh Allah SWT.”


Allah SWT melimpahkan rezeki, keberkahan, kebahagiaan, dan kenikmatan lainnya kepada setiap orang yang Dia kehendaki. Kenikmatan tersebut boleh jadi untuk keberkatan, tapi juga boleh menjadi peringatan dari Allah apabila diberikan kepada orang yang sering lalai dalam menjalankan ibadah bahkan sering maksiat dan tidak merasa was-was atas perbuatannya tersebut.


Dalam Islam, orang yang lalai dalam menjalankan ibadah dan sering bermaksiat namun Allah beri kenikmatan dunia berupa harta yang berlimpah disebut dengan istidraj. Dikutip dari Rumaysho.com, Istidraj artinya suatu jebakan berupa kelapangan rezeki padahal yang diberi dalam keadaan terus menerus bermaksiat pada Allah.


Pembahasan tentang istidraj, juga Allah terangkan dalam Al Qur’an, tepatnya surat Al An’am ayat 44. Allah Ta’ala berfirman,


فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ


“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al An’am: 44)


Ciri-ciri Istidraj


Antara ciri-ciri orang yang istidraj adalah :





1. Pekerjaan dan rezeki di dunia berjalan lancar meskipun tidak pernah mengingat Allah SWT.


2. Merasa begitu tenang dan tentram meskipun tidak pernah menjalankan ibadah dan sering melakukan maksiat.


3. Jarang terkena penyakit walaupun sering melakukan perbuatan maksiat dan lalai beribadah.


4. Merasa segala kenikmatan yang didapatkan di dunia semata karena usaha sendiri tanpa campur tangan Allah SWT.


5. Jarang ditimpa musibah meskipun tidak pernah mengingat Allah SWT.


Namun ternyata, sakit juga bisa menjadi ciri bahwa seseorang sedang mengalami istidraj. Bagi seseorang yang sedang diuji berupa istidraj, biasanya orang itu akan jarang sekali sakit karena pada dasarnya salah satu hikmah sakit adalah mendapat keringanan dari dosa-dosa yang kita lakukan. Wallahu’alam


Semoga kita semua tidak termasuk dalam golongan orang yang diuji oleh Allah dengan istidraj, aamiin.

Perbedaan Istidraj dengan Azab

Istidraj merupakan bentuk pengelabuan sementara berupa ujian dengan membiarkan orang terjebak dalam dosa sebagai kesempatan bagi individu untuk bertaubat.


Sedangkan azab adalah hukuman yang adil dan setimpal yang Allah berikan kepada mereka yang tidak bertaubat dan melanggar perintah-Nya.


Perbedaan Istidraj dengan Nikmat

Istidraj memiliki efek negatif jangka panjang pada individu karena memperburuk keadaan spiritual dan mengarahkan orang semakin jauh dari kebenaran.


Sementara nikmat memberikan dampak positif jangka panjang, karena menguatkan ikatan spiritual dengan Allah, memperbaiki karakter individu, dan membawa kebahagiaan yang abadi di kehidupan akhirat.


Bahayanya Istidraj

Berikut ini bahaya istidraj yang perlu diketahui:


1. Siksaan atau Azab hanya Ditangguhkan

Hakikat istidraj adalah sebuah siksaan, bukan sebuah nikmat meskipun dalam penerimaannya berupa nikmat.


Siksaan tersebut ditangguhkan dalam waktu yang lama, sehingga sampai batas waktu yang telah ditetapkan.


Mengenai bila terlaksananya tangguhan siksaan atau azab Allah SWT, ulama tafsir berbeda pendapat dan pandangan.


Ada yang berpendapat bahwa tangguhan azab dan siksaan bisa terjadi di dunia terlebih dahulu, kemudian disempurnakan di akhirat.


Ada pula mufasir yang berpendapat bahwa tangguhan azab dan siksaan Allah SWT akan terlaksana di akhirat kelak.


Tujuan Allah SWT menimpakan azab atau siksaan-Nya secara langsung saat di dunia kepada umat terdahulu adalah untuk menjadikannya sebagai peringatan dan pelajaran


2. Semakin Tenggelam dalam Dosa dan Maksiat

Allah SWT akan memberikan kepada mereka segala kenikmatan dan kebahagiaan di dunia agar terus melakukan dosa dan kemaksiatan.


Apabila tiba hari akhir, Allah SWT akan mengazab mereka dengan penuh siksa.


Selain itu, melansir dari BDK Aceh Kementerian Agama Republik Indonesia, ada banyak tafsir dan hadis lain yang menyebutkan bahaya istidraj.


Dalam Tafsir Al Jalalain (hal. 141) disebutkan:


“Ketika mereka meninggalkan peringatan yang diberikan pada mereka, tidak mau mengindahkan peringatan tersebut, Allah buka pada mereka segala pintu nikmat sebagai bentuk istidraj pada mereka.


Sampai mereka berbangga akan hal itu dengan sombongnya.


Kemudian Kami siksa mereka dengan tiba-tiba. Lantas mereka pun terdiam dari segala kebaikan.”


Selanjutnya, berdasarkan hadis dari ‘Uqbah bin ‘Amir ra, Rasulullah SAW bersabda:


إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ


Mengenai kapan terlaksananya tangguhan siksaan atau azab Allah SWT, ulama tafsir berbeda pendapat dan pandangan.


Siksaan tersebut ditangguhkan dalam waktu yang lama, sehingga sampai batas waktu yang telah ditetapkan.


Mengenai kapan terlaksananya tangguhan siksaan atau azab Allah SWT, ulama tafsir berbeda pendapat dan pandangan.


Ada yang berpendapat bahwa tangguhan azab dan siksaan bisa terjadi di dunia terlebih dahulu, kemudian disempurnakan di akhirat.


Ada pula mufasir yang berpendapat bahwa tangguhan azab dan siksaan Allah SWT akan terlaksana di akhirat kelak.


Tujuan Allah SWT menimpakan azab atau siksaan-Nya secara langsung saat di dunia kepada umat terdahulu adalah untuk menjadikannya sebagai peringatan dan pelajaran


3. Terlalu Terlena dengan Kenikmatan hingga Tidak Bertobat

Jika seseorang terjebak dalam istidraj, mereka mungkin tidak merasa perlu atau tidak memiliki keinginan untuk bertobat.


Hal ini dapat menghambat pertobatan dan perbaikan diri yang penting dalam agama Islam.


4. Kehilangan Hidayah

Istidraj dapat membuat seseorang merasa puas dengan kehidupan mereka yang salah atau dosa, dan mereka mungkin kehilangan kesadaran akan kebenaran dan konsekuensi perbuatan mereka.


Mereka mungkin tidak lagi mencari kebaikan atau menjaga hubungan yang benar dengan Allah.


Istidraj dapat mengarah pada kehilangan petunjuk ilahi dan kesadaran spiritual.


Seseorang yang terjebak dalam istidraj mungkin tidak lagi merasakan dorongan untuk memperbaiki diri, mencari kebenaran, atau mengikuti jalan yang benar.


Cara Menghindari Istidraj

Setelah mengetahui bahayanya, kita sebagai umat Islam tentu tidak ingin mengalaminya. Jadi, berusahalah untuk mengelakkan dan terhindar dari istidraj yang menyesatkan.


1. Meningkatkan Iman dan Takwa

Salah satu cara menghindari istidraj yang bisa memba kita ke dalam jerumus setan dan dosa yaitu dengan meningkatkan keimanan serta ketakwaan dalam diri.


Hal ini bisa dilakukan dengan senantiasa melaksanakan segala ibadah yang diperintahkan oleh Allah SWT.


Jadi, cobalah untuk meningkatkan hubungan Moms dengan Allah SWT melalui sholat, puasa, dzikir, dan amal ibadah lainnya.


2. Menjaga Diri dari Maksiat

Cara lain yang juga efektif untuk menghindarkan diri dari bahaya istidraj yaitu dengan mewaspadai segala bentuk godaan dunia.


Setan sering kali menggunakan kesenangan dunia sebagai alat untuk menyesatkan manusia.


Oleh karena itu, berhati-hatilah terhadap harta, kekuasaan, popularitas, atau kesenangan duniawi lainnya yang mungkin dapat menyesatkan.


Baca Juga: 5 Doa Keluarga Bahagia Dunia Akhirat, Masya Allah!


3. Meminta Perlindungan pada Allah SWT

Selain membentengi diri dengan segala upaya, jangan lupa perkuat dengan doa agar selalu dilindungi oleh Allah SWT dari segala tipu daya setan.


Berikut bacaan doa meminta perlindungan dari godaan setan yang boleh diamalkan:


اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَهَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ


Allahuma inny a'udzubika minasyaithoni rojiymi wa hamzahi wa nafakhihi wa naftsihi


Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung pada-Mu dari setan yang terkutuk dan dari godaannya dan dari tiupannya dan dari hembusannya".


4. Memperkuat Hubungan dengan Sesama Muslim


Misalnya dengan bergabung dalam kelompok-kelompok keagamaan, dan berinteraksilah dengan orang-orang yang memiliki pemahaman yang benar tentang Islam.


Dengan saling mengingatkan dan memberikan dukungan, kita dapat membantu satu sama lain dalam menghindari jebakan setan.




Dalil Tentang Istidraj

Kita tentunya juga perlu memahami penjelasan tentang istidraj di dalam Al-Quran. Berikut dalil tentang apa itu istidraj di dalam Al-Quran:


- Surat Al-A'raf ayat 182, yang artinya: "Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangaur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui."


"Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu (kesenangan) bagi mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa." (Surat Al An'am ayat 44)


"Dan jangan sekali-kali orang-orang kafir itu mengira bahwa tenggang waktu yang Kami berikan kepada mereka lebih baik baginya. Sesungguhnya tenggang waktu yang Kami berikan kepada mereka hanyalah agar dosa semakin bertambah, dan mereka akan mendapat azab yang menghinakan." (Surat Ali Imran ayat 178)


"Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada negeri akhirat, Kami jadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka, maka mereka bergelimang (dalam kesesatan)." (Surat An Naml: 4)


"Dan (juga) kaum 'Aad dan Tsamud, dan sungguh telah nyata bagi kamu (kehancuran mereka) dari (puing-puing) tempat tinggal mereka. Dan syaitan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka, lalu ia menghalangi mereka dari jalan (Allah), sedangkan mereka adalah orang-orang berpandangan tajam." (Surat Al Ankabut: 38)


 


Kesimpulan


Kurniaan Allah biasanya diisi sebelum dan selepasnya dengan ketaqwaan, kebaikan dan ketaatan. Hal ini sepertimana seseorang yang rajin melakukan solat malam, rajin bersedekah, rajin melakukan Solat Dhuha, kemudian Allah SWT melimpah ruahkan rezekinya. Maka itu kita namakan sebagai kurniaan atau karamah.


Namun orang yang tidak mengerjakan sembahyang lima waktu, berterusan melakukan maksiat dan derhaka kepada-Nya, namun dia kelihatan kaya dan rezekinya juga mudah, maka inilah yang dinamakan istidraj.


Justeru, marilah sama-sama kita sentiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT selaras dengan firman-Nya:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّـهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ


Maksudnya: Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, dan jangan sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam.


Surah Ali Imran (102)


Semoga kita tidak tergolong sebagai orang yang bangga dengan maksiat yang kita buat kerana masih selamat dari azab dan musibah.


Jangan lupa juga untuk perbanyak ibadah dan mengingat Allah serta bersyukur atas semua nikmat yang telah diberikan.


sumber : https://www.muftiwp.gov.my/ms/artikel/al-afkar/3301-al-afkar-53-bagaimana-membezakan-antara-istidraj-dan-kurniaan-allah-swt